Loading...
Loading...
Loading...

"Klinik Srikandi Husada Kudus"

08112727161

(0291) 430386

Daftar Artikel
Beranda Artikel
artikel
Perut Buncit Dapat Menganggu Proses Berpikir

Penelitian yang dilakukan di negara bagian Iowa, Amerika Serikat ini menemukan, berkurangnya massa otot dan bertambahnya lemak pada tubuh dapat berimbas pada fleksibilitas dalam berpikir seiring dengan makin bertambahnya usia. Biang kerok dari masalah ini adalah perubahan pada sistem imun tubuh.

Hasil penelitian ini tentu saja akan menjadi kabar yang mengembirakan bagi mereka yang bergelut dalam bidang pengobatan masalah mental terutama pada orang lanjut usia dengan kegemukan, kurang gerak dan menurunnya massa otot akibat proses penuaan.

Penelitian ini menggunakan data dari 4.000 orang usia pertengahan yang tinggal di Inggris baik berjenis kelamin laki laki maupun perempuan. Para peneliti melakukan pengukuran langsung terhadap massa otot, lemak perut dan lemak di bawah kulit yang dihubungkan dengan perubahan kecerdasan selama lebih dari enam tahun.

Hasilnya, kebanyakan mereka yang usianya 40an dan 50an tahun dengan tubuh gemuk memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Uniknya, mereka yang memiliki massa otot yang tinggi justru tidak mengalami hal yang serupa. Ini artinya, massa otot bisa sebagai proteksi dari menurunnya kecerdasan yang disebabkan oleh kegemukan.

Secara umum, peningkatan lemak tubuh dan menurunnya massa otot terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Untuk memperlambat proses ini, disarankan untuk rutin berolahraga terutama olahraga beban yang dapat meningkatkan massa otot. Usaha ini kudu lebih keras dilakukan oleh perempuan karena secara alamiah, massa otot pada perempuan memang lebih kecil bila dibandingkan dengan pria.

Penelitian terbaru ini kemudian dihubungan dengan penelitian sebelumnya yang melihat hubungan antara perubahan aktivitas sistem imun dengan lemak dan massa otot yang kemudian berlanjut mempengaruhi kecerdasan.

Sayangnya korelasi yang lebih detil dari sistem imun, lemak tubuh, massa otot dan kecerdasan masih membutuhkan penelitian lanjutan.

artikel
Otak Awet Muda Dengan Berolahraga

Ingin menjaga otak tetap bugar seiring dengan bertambahnya usia? Menurut studi terbaru, olahraga yang rutin dapat membantu otak tetap bugar seiring dengan bertambahnya usia. Studi ini juga menegaskan bagaimana aktivitas fisik bermanfaat dalam proses pikir orang yang berusia lanjut.

Temuan ini tidak mengharuskan orang yang lebih tua agar segera berlari maraton. Lalu? Lakukanlah lebih banyak aktivitas fisik mulai saat ini sehingga kesehatan otak terjaga seiring dengan bertambahnya usia. Dengan kesehatan otak yang terjaga maka ketika berusia lanjut, seseorang akan lebih mandiri.

Peneliti dalam studi ini mengukur kebugaran dan aktivitas fisik 51 orang dewasa. Keterampilan berpikir diukur menggunakan tes fungsi kognitif, sementara fungsi otak dinilai melalui pemeriksaan MRI.

Ini merupakan studi pertama yang meneliti bagaimana aktivitas fisik berinteraksi dengan jaringan otak dan pengaruhnya terhadap fungsi otak.

Jaringan otak selalu melakukan komunikasi yang konstan, tapi pada beberapa kesempatan, ada bagian otak yang lebih aktif dibandingkan dengan bagian otak yang lain. Aktivitas otak ini ternyata juga bervariasi pada setiap individu. Ada yang otaknya aktif saat sedang beristirahat, ada pula yang tidak aktif saat orang itu bergerak.

Nah, bila aktivitas yang bervariasi ini tidak terjadi maka itu artinya otak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini tentu saja mempengaruhi kemampuan otak dalam hal mengatur fungsi dasar sehari hari seperti mengingat informasi penting atau kemampuan pengendalian diri.

Kesimpuan dari studi ini adalah olahraga itu baik dan pada orang yang rutin berolahraga, fungsi fungsi otaknya juga mengalami perbaikan.

Temuan ini penting sebagai salah satu bentuk intervensi pada mereka yang otaknya tidak berfungsi secara optimal. Mereka bisa disarankan melakukan perubahan pola hidup yang radikal khususnya dalam melakukan aktivitas fisik.

artikel
Posisi Tidur Yang Baik

Menurut Sleep Foundation, sepertiga umur manusia dihabiskan diatas tempat tidur, baik untuk tidur maupun istirahat. Saat tidur, tubuh berkesempatan memperbaiki dirinya sendiri sehingga tetap bisa berfungsi secara optimal. Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan kualitas tidur adalah posisi tidur atau bagaimana tubuh berbaring saat tidur.

Banyak yang menganggap posisi yang paling nyaman saat tidur adalah telentang karena posisi ini tidak terlalu membebani persendian. Tapi tahukah kamu? Posisi telentang merupakan posisi tidur yang paling buruk. Menurut Dr. Lois Krahn, spesialis tidur di Klinik Mayo, tidur posisi telentang tidak dianjurkan bagi orang yang mengalami ketindihan sleep apnea.

Tidur telentang menyebabkan lidah dan rahang jatuh sehingga menyempitkan jalan napas. Ujung-ujungnya, sebagian besar mereka yang hobi tidur telentang akan mendengkur.

Bagaimana dengan tidur tengkurap?

Tidur tengkurap membantu menjaga jalan napas tetap terbuka, tetapi posisi ini bisa membuat tulang belakang dan leher tegang. Jangan heran bila saat bangun tidur, leher terasa kaku/sakit setelah tidur dalam posisi tengkurap.

Bagaimana dengan tidur dalam posisi miring?

Sejumlah bukti menunjukan, posisi tidur yang paling baik adalah tidur menyamping. Tidur miring membantu mencegah gangguan aliran nafas dan mengurangi dengkuran.

Jadi kesimpulannya, tidur menyamping, dengan posisi kepala yang sedikit lebih tinggi (selama nyaman), adalah posisi tidur yang terbaik. Tidur miring juga dianjurkan selama kehamilan, terutama saat memasuki trimester akhir.

Pertanyaannya, tidurnya miring kanan atau kiri? Menurut beberapa studi, tidur di sisi kiri adalah yang terbaik karena posisi itu dapat melindungi organ dalam dari tekanan dan memperlancar aliran darah.

Oh ya, tidur telentang sebaiknya jangan dilakukan saat trimester ketiga kehamilan karena rahim yang membesar dapat menekan pembuluh darah besar, vena cava inferior dan sistem arteri di belakang rahim.

Kembali ke posisi miring, tidur dalam posisi miring juga sangat bagus untuk mereka yang mengalami masalah pada leher dan punggung. Akan lebih baik bila ada bantal kecil yang diletakan diantara kedua lutut.

artikel
Kurang Tidur Dapat Meningkatkan Risiko Diabetes

Tahu insomnia? Tahu kurang tidur? Yap, bila seseorang tidak mampu tidur berkualitas dalam rentang waktu yang dibutuhkan maka kemungkinan besar orang tersebut menderita insomnia.

Bagi kamu yang mengalami insomnia, ada berita buruk nih. Menurut studi terbaru, orang yang kerap mengalami kesulitan tidur atau kurang tidur, memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang tidurnya cukup. Artinya, temuan ini menunjukan, insomnia dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Dibalik berita buruk tersebut, terselip berita baik, yakni risiko diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh kurang tidur bisa dicegah atau diturunkan dengan perubahan gaya hidup.

Studi ini merupakan studi kolaborasi antara Universitas Bristol, Universitas Manchester, Universitas Exeter dan Universitas Harvard. Didanai oleh Diabetes UK dan diterbitkan dalam Diabetes Care.

Hubungan antara insomnia dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sebenarnya sudah sering diteliti. Khusus untuk studi kali ini, peneliti menilai apakah ada hubungan kausal dari kualitas tidur dengan kenaikan kadar gula darah.

Para peneliti menggunakan teknik statistik pengacakan Mendelian untuk menilai bagaimana kualitas tidur berkaitan dengan kadar gula darah (HbA1C). Pengacakan Mendelian mengelompokan orang menurut kode genetik yang ditetapkan secara acak saat lahir. Metode ini memungkinkan para peneliti dapat menghilangkan bias hasil penelitian.

Dalam perjalanannya, 336.999 orang dewasa yang tinggal di Inggris melaporkan bahwa mereka kerap mengalami kesulitan tidur memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kesulitan tidur.

Kesimpulannya, studi ini memberikan pemahaman yang lebih baik bagaimana gangguan tidur dapat mempengaruhi risiko diabetes tipe 2. Studi ini juga menunjukan, perubahan pola hidup yang memperbaiki kondisi insomnianya dapat membantu mencegah atau menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Klinik Pratama Srikandi Husada

Kontak Kami

(0291) 430386

08112727161 / 08112727169

Selengkapnya

Jam Operasional

Layanan umum
Jam : 07:00 - 14:00
Jam : 16:00 - 21:00
Layanan 24 jam
- Gawat Darurat
- Persalinan
- One Day Care
Chat Via Whatsapp

© Klinik Pratama Srikandi Husada. All Rights Reserved.

Designed by HTML Codex
Distributed by ThemeWagon